Kajian Rabu (11/4/2012) pagi dengan kitab Adabul Alim wal Muta'allim begitu menarik, saat itu sedang mengkaji tentang etika alim yang harus selalu meng-up date ilmunya dan membiasakan menulis karya tulis ilmiah, baik fiksi meupun non fiksi. Banyak fungsi dari menulis karya yang diterbitkan di antaranya untuk memperkokoh hafalan, mencerdaskan emosi (hati), mempertajam akal rasio, memperbaiki argumen, memperoleh pristese atau nama yang baik [karena dikenal sebagai penulis produktif], dan memiliki nama yang terabadikan atau dikenang, selalu di kenang karena karya tulisnya. Penulis karya ilmiah baik berupa buku, artikel dalam koran dan jurnal akan memperoleh nama baik, homor dan royallti, sekaligus amal jariyah sampai hari kiamat.
Saya jelaskan, bahwa amat sedikit kyai yang mengapresiasi dunia yulis menulis sebagaimana yang dinyatakan oleh Hadlrotus Syaikh, KH. Hasyim Asy'ari ini. Mbah Hasyim selain aktifis organisasi, pengasuh pesantren, juga penulis produktif. Ada 19 kitab karyanya, dalam kumpulan Irsyad al-Sary. Semua kitab tersebut berbahasa Arab. Tradisi menulis karya yang diterbitkan dalam bentuk kitab atau buku tersebut jarang dilakukan oleh ulama berikutnya.
Dalam tradisi keulamaan Indonesia yang paling popular menulis adalah Syeh Nawawi al-Bantany dan KH. Bisri Mutofa dari rembang, ayahanda Gus Mus. Pada era berikutnya kyai produktif yang mudah dikenal umat adalah Gus Dur dan Gus Mus yang memiliki tradisi pesantren kuat. Sebenarnya banyak juga yang lain dari kalangan pesantren atau alumni pesantren yang rajin menulis di antaranya Nur Cholish Madjid atau cak Nur, Emha Ainun Najib, Amin Abdullah, Komarudin Hidayat, dan lainnya.
Di tengah saya menjelaskan tentang produktifitas menulis, seorang santri bertanya. Bisakah saya, seorang santri-mahasiswa biasa, dalam arti keturunan orang biasa bukan keturunan orang hebat seperti Gus Mus dan Gus Dur bisa menjadi orang yang terkenal dan produktif seperti beliau berdua?
Bisa, jawabku. Kalian semua -para santriku- bisa menjadi orang hebat seperti Gus Dur dan Gus Mus. Gus Dur, misalnya memang -kata Prof Mukti Ali saat saya belajar kepadanya- adalah anak keturunan macan. Mbahnya dari pihak bapaknya adalah KH. Hasyim Asy'ari, dan mbah dari pihak ibunya adalah KH. Bisri Syamsuri. keduanya ulama besar. ia memang keturunan macan. Tetapi orang besar bukan hanya Gus Dur dan Gus Mus yang memiliki nasab terkenal, di luar itu ada ribuan ulama dan cendekiawan mumpuni yang lahir dari keluarga biasa bahkan tidak terkenal.
Islam mengajarkan, derjat dan kedudukan seseorang ditentukan oleh kualitas iman, ilmu, dan amalnya. Bukan karena nasab dan keturunannya. Ada keturunan para Nabi yang menjadi orang biasa dan ada keturunan orang biasa yang menjadi Nabi. Ada keturunan ulama besar yang menjadi orang biasa, dan ada keturunan orang biasa yang menjadi ulama besar. Anak presiden ada yang menjadi rakyat biasa, dan ada anakn rakyat biasa yang menjadi presiden.
Apa rahasianya, wahai anak-anakku? Rahasianya adalah terletak pada kualitas. Apa sebabnya orang berkualitas? Karena ia berusaha dengan terus menerus belajar dan belajar. mencari ilmu, berguru, beramal, mencari ilmu, pengalaman, dan melakukan uji coba penelitian, dan seterusnya. Kegigihan dan kesabaran akan membawa hasil. man Jadda wajada, siapa giat pasti berhasil.
Pagi itu, saya begitu senang. Pertanyaan tadi membuka harapan yang lebih kuat, bahwa pesantren mahasiswa An Najah yang saya nobatkan menjadi pesantren kepenulisan mendapatkan tambahan kekuatan dengan fatwa Hadlrotus Syaikh, bahwa ilmua harus menyibukkan diri menulis karya. Semoga, para santri tergugah untuk kreatif menulis. Amin.
Amiin. Meskipun saya termasuk santri baru (angkatan 2014) yang baru mengaji kitab adaabul 'alim wal muta'allim, belum menguasai betul tentang bahsa arab dan hurufpegon, namun ketika dijelaskan terjemahannya oleh Abah saya menjadi paham, dan tahu bagaiman adab seorang santri kepada dirinya sendiri, kepada kyainya.. dsb (ngajinya baru nyampe bab 3)Semoga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, berkah lan manfaat. amiin. Saajtahidu fauqa mustawa al-akhar :)
BalasHapus