Kholif tu'rof, berbedalah maka engkau dikenal. Demikian kata pepatah yang mengajarkan tentang perbedaan dan keterkenalan atau populer. Jika ia berbeda dengan yang lain, atau lain dari pada yang yang lain maka ia akan dikenal. Perbedaan mempermudah pengenalan. Tiada didunia ini suatu hal yang sama, karena agar mudah dikenali. Perbedaan bukan dijadikan alasan untuk meremehkan atau merendahkan dan menghina tetapi untuk mengenal lebih jauh.
Siapa pun orang yang ingin dikenal atau terkenal dan populer maka ia harus memiliki hal yang beda dengan yang lain. Jika perbedaan itu menunjukkan sisi positif maka ia dikenal baik, dan jika ia berbeda karena hal-hal negatif maka ia akan dikenal jelek. Potensi yang baik kembangkan sehingga melebihi dari potensi yang dimiliki oleh orang lain meski hanya selisih 0,0000000001. Itu perbedaan yang amat kecil, tetapi tetap menunjukkan perbedaan. Seleksi yang dilakukan untuk memilih satu yang terbaik maka selisih yang sedikit itu sudah cukup untuk membuatnya terpilih.
Kalian, para santri ingin dikenal atau terkenal ? buatlah diri kalian berbeda dengan yang lain semisal, ini hanya contoh lho!: Amirudin dikenal karena ia memiliki suara yang lebih bagus saat membaca al-Qur'an dan dia adalah santri pertama putra sekaligus lurah awal pesantren mahasiswa An Najah. Eka Safitri dikenal karena ia santri pertama putri Pesma An Najah, ia yang ikrar pertama kali untuk jadi santri saat pesantren ini baru disiapkan. Eka dikenal karena semangatnya yang kuat. Windiastuti dikenal karena ia adalah lurah putri pertama di Pesma An Najah dan ia sangat telaten membantu kerja ibu pengasuh. Haris dikenal karena ia yang kerja keras memperbaiki genteng bocor, air mampet, ngantar gus Faqih, dan semua pekerjaan yang butuh keterampilan tangan termasuk menjadi supir pengasuh. Rowin dikenal karena menjadi asisten asatidz untuk mengisi kajian kitab saat mereka berhalangan. Ia adalah "penerbang" yang berarti pandai menabuh terbang, thang, thang, dung, dung dan bersholawat di samping saat ini menjadi lurah Pesma An Najah. Dimas, ia dikenal karena pandai menulis puisi, peserta pertemuan sastrawan melayu se ASEAN di Padang, sekaligus bos pengelola Buletin Bener FKUB Banyumas. Taufik dikenal karena tulisan kaligrafinya bagus sebagus orangnya. Ngguyuo Fik, ben tambah gantheng ! dan masih banyak lagi santri-santri yang punya "sesuatu yang beda" yang lain, seperti pandai bahasa Inggris, pidato bahasa Arabnya. Ada juga yang dikenal karena sregeb mbantu ibu pengasuh nyeterika, nyapu, atau mbantu pesantren untuk bersih-bersih, angkat-angkat, dan lainnya.
Siapa yang ingin ingin menyusul jadi santri terkenal? Selain prestasi yang dicontohkan di depan, masih banyak yang bisa kalian lakukan semisal; membantu pesantren tanpa disuruh, contohnya input data, ngetik, nyuci mobil pengasuh, nyetrika, tepat mebayar syahriyah, nata sandal, dan lainnya. Hindarkan diri dikenal karena hal-hal negatif seperti dikenal karena banyak tidur, banyak makan, malas, banyak bicara, suka mengganggu temannya, dan lainnya. Berbuatlah dengan sungguh-sungguh untuk menjadi yang terbaik, nanti kalian akan meraihnya meskipun presatasi kalian di atas hanya beberapa poin saja selisihnya.
Bismillah, mulailah dari sekarang. Berusaha keras di atas yang lain. berdo'a khusyu' ikhlas di lebih dari yang lain. Fastabuqul khairot ! Prestasi dan kesuksesan akan menjemput kalian.
Tampilkan postingan dengan label Santri mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 April 2012
Rabu, 18 April 2012
Bisakah Santri Mahasiswa Seperti Gus Dur
Kajian Rabu (11/4/2012) pagi dengan kitab Adabul Alim wal Muta'allim begitu menarik, saat itu sedang mengkaji tentang etika alim yang harus selalu meng-up date ilmunya dan membiasakan menulis karya tulis ilmiah, baik fiksi meupun non fiksi. Banyak fungsi dari menulis karya yang diterbitkan di antaranya untuk memperkokoh hafalan, mencerdaskan emosi (hati), mempertajam akal rasio, memperbaiki argumen, memperoleh pristese atau nama yang baik [karena dikenal sebagai penulis produktif], dan memiliki nama yang terabadikan atau dikenang, selalu di kenang karena karya tulisnya. Penulis karya ilmiah baik berupa buku, artikel dalam koran dan jurnal akan memperoleh nama baik, homor dan royallti, sekaligus amal jariyah sampai hari kiamat.
Saya jelaskan, bahwa amat sedikit kyai yang mengapresiasi dunia yulis menulis sebagaimana yang dinyatakan oleh Hadlrotus Syaikh, KH. Hasyim Asy'ari ini. Mbah Hasyim selain aktifis organisasi, pengasuh pesantren, juga penulis produktif. Ada 19 kitab karyanya, dalam kumpulan Irsyad al-Sary. Semua kitab tersebut berbahasa Arab. Tradisi menulis karya yang diterbitkan dalam bentuk kitab atau buku tersebut jarang dilakukan oleh ulama berikutnya.
Dalam tradisi keulamaan Indonesia yang paling popular menulis adalah Syeh Nawawi al-Bantany dan KH. Bisri Mutofa dari rembang, ayahanda Gus Mus. Pada era berikutnya kyai produktif yang mudah dikenal umat adalah Gus Dur dan Gus Mus yang memiliki tradisi pesantren kuat. Sebenarnya banyak juga yang lain dari kalangan pesantren atau alumni pesantren yang rajin menulis di antaranya Nur Cholish Madjid atau cak Nur, Emha Ainun Najib, Amin Abdullah, Komarudin Hidayat, dan lainnya.
Di tengah saya menjelaskan tentang produktifitas menulis, seorang santri bertanya. Bisakah saya, seorang santri-mahasiswa biasa, dalam arti keturunan orang biasa bukan keturunan orang hebat seperti Gus Mus dan Gus Dur bisa menjadi orang yang terkenal dan produktif seperti beliau berdua?
Bisa, jawabku. Kalian semua -para santriku- bisa menjadi orang hebat seperti Gus Dur dan Gus Mus. Gus Dur, misalnya memang -kata Prof Mukti Ali saat saya belajar kepadanya- adalah anak keturunan macan. Mbahnya dari pihak bapaknya adalah KH. Hasyim Asy'ari, dan mbah dari pihak ibunya adalah KH. Bisri Syamsuri. keduanya ulama besar. ia memang keturunan macan. Tetapi orang besar bukan hanya Gus Dur dan Gus Mus yang memiliki nasab terkenal, di luar itu ada ribuan ulama dan cendekiawan mumpuni yang lahir dari keluarga biasa bahkan tidak terkenal.
Islam mengajarkan, derjat dan kedudukan seseorang ditentukan oleh kualitas iman, ilmu, dan amalnya. Bukan karena nasab dan keturunannya. Ada keturunan para Nabi yang menjadi orang biasa dan ada keturunan orang biasa yang menjadi Nabi. Ada keturunan ulama besar yang menjadi orang biasa, dan ada keturunan orang biasa yang menjadi ulama besar. Anak presiden ada yang menjadi rakyat biasa, dan ada anakn rakyat biasa yang menjadi presiden.
Apa rahasianya, wahai anak-anakku? Rahasianya adalah terletak pada kualitas. Apa sebabnya orang berkualitas? Karena ia berusaha dengan terus menerus belajar dan belajar. mencari ilmu, berguru, beramal, mencari ilmu, pengalaman, dan melakukan uji coba penelitian, dan seterusnya. Kegigihan dan kesabaran akan membawa hasil. man Jadda wajada, siapa giat pasti berhasil.
Pagi itu, saya begitu senang. Pertanyaan tadi membuka harapan yang lebih kuat, bahwa pesantren mahasiswa An Najah yang saya nobatkan menjadi pesantren kepenulisan mendapatkan tambahan kekuatan dengan fatwa Hadlrotus Syaikh, bahwa ilmua harus menyibukkan diri menulis karya. Semoga, para santri tergugah untuk kreatif menulis. Amin.
Saya jelaskan, bahwa amat sedikit kyai yang mengapresiasi dunia yulis menulis sebagaimana yang dinyatakan oleh Hadlrotus Syaikh, KH. Hasyim Asy'ari ini. Mbah Hasyim selain aktifis organisasi, pengasuh pesantren, juga penulis produktif. Ada 19 kitab karyanya, dalam kumpulan Irsyad al-Sary. Semua kitab tersebut berbahasa Arab. Tradisi menulis karya yang diterbitkan dalam bentuk kitab atau buku tersebut jarang dilakukan oleh ulama berikutnya.
Dalam tradisi keulamaan Indonesia yang paling popular menulis adalah Syeh Nawawi al-Bantany dan KH. Bisri Mutofa dari rembang, ayahanda Gus Mus. Pada era berikutnya kyai produktif yang mudah dikenal umat adalah Gus Dur dan Gus Mus yang memiliki tradisi pesantren kuat. Sebenarnya banyak juga yang lain dari kalangan pesantren atau alumni pesantren yang rajin menulis di antaranya Nur Cholish Madjid atau cak Nur, Emha Ainun Najib, Amin Abdullah, Komarudin Hidayat, dan lainnya.
Di tengah saya menjelaskan tentang produktifitas menulis, seorang santri bertanya. Bisakah saya, seorang santri-mahasiswa biasa, dalam arti keturunan orang biasa bukan keturunan orang hebat seperti Gus Mus dan Gus Dur bisa menjadi orang yang terkenal dan produktif seperti beliau berdua?
Bisa, jawabku. Kalian semua -para santriku- bisa menjadi orang hebat seperti Gus Dur dan Gus Mus. Gus Dur, misalnya memang -kata Prof Mukti Ali saat saya belajar kepadanya- adalah anak keturunan macan. Mbahnya dari pihak bapaknya adalah KH. Hasyim Asy'ari, dan mbah dari pihak ibunya adalah KH. Bisri Syamsuri. keduanya ulama besar. ia memang keturunan macan. Tetapi orang besar bukan hanya Gus Dur dan Gus Mus yang memiliki nasab terkenal, di luar itu ada ribuan ulama dan cendekiawan mumpuni yang lahir dari keluarga biasa bahkan tidak terkenal.
Islam mengajarkan, derjat dan kedudukan seseorang ditentukan oleh kualitas iman, ilmu, dan amalnya. Bukan karena nasab dan keturunannya. Ada keturunan para Nabi yang menjadi orang biasa dan ada keturunan orang biasa yang menjadi Nabi. Ada keturunan ulama besar yang menjadi orang biasa, dan ada keturunan orang biasa yang menjadi ulama besar. Anak presiden ada yang menjadi rakyat biasa, dan ada anakn rakyat biasa yang menjadi presiden.
Apa rahasianya, wahai anak-anakku? Rahasianya adalah terletak pada kualitas. Apa sebabnya orang berkualitas? Karena ia berusaha dengan terus menerus belajar dan belajar. mencari ilmu, berguru, beramal, mencari ilmu, pengalaman, dan melakukan uji coba penelitian, dan seterusnya. Kegigihan dan kesabaran akan membawa hasil. man Jadda wajada, siapa giat pasti berhasil.
Pagi itu, saya begitu senang. Pertanyaan tadi membuka harapan yang lebih kuat, bahwa pesantren mahasiswa An Najah yang saya nobatkan menjadi pesantren kepenulisan mendapatkan tambahan kekuatan dengan fatwa Hadlrotus Syaikh, bahwa ilmua harus menyibukkan diri menulis karya. Semoga, para santri tergugah untuk kreatif menulis. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)